Sondag 31 Maart 2013


Dendang Sepanjang Pematang

Cerpen: M. Arman AZ 
Adalah kenangan yang menghimbauku untuk menengok pohon randu itu. Letaknya menjorok sekitar sepuluh meter di sebelah kiri jalan masuk kampung. Dahan-dahannya seperti masa lalu yang merentangkan tangan. Aku tergoda untuk membelokkan langkah ke sana. Bersijingkat menyibak rimbun ilalang setinggi pinggang.
Ohoi, pohon randu, inilah dia si anak hilang. Lama sudah dia tak pulang. Sambut dan peluklah dia sepenuh kenang.

Kutelisik sisi belakang batang randu itu. Sekian tahun silam, menggunakan sebilah belati milik kakek yang kupinjam tanpa izin beliau, aku dan beberapa teman bergiliran memahat nama kami di sana. Tak ada lagi ukiran nama kami. Aku tersenyum kecut menyadari kebodohanku barusan. Bukankah pohon randu terus tumbuh seiring guliran waktu? Kuletakkan pantat di tanah yang lembab. Menyandarkan punggung di kekar batang randu. Kuhela napas haru. Aroma humus dan ilalang mengepung dari segenap penjuru.

Dari pohon yang jadi tapal batas kampung ini dengan kampung seberang, kusaksikan pagi menggeliat lagi. Ufuk timur perlahan benderang. Aku teringat selembar kartu pos bergambar sunrise yang mengintip dari balik punggung gedung-gedung pencakar langit. Seorang teman mengirimnya dari negeri yang jauh. Konon dia sekarang jadi kelasi kapal pesiar. Entah di belahan dunia mana dia kini berada. Masih ingatkah dia pada pohon randu ini? Masih ingatkah dia pada Pak Narto, guru kami dulu? Andai dia tahu beliau telah mangkat, sanggupkah dia lipat jarak dan waktu agar bisa ikut mengantar kepergiannya?

Kemarin siang, di tengah raung mesin pabrik, ponsel tuaku bergetar. Sebuah nomor asing berkedip-kedip gelisah. Aku kaget mendengar suara Ayub. Dia salah seorang sahabatku di kampung. "Pak Narto wafat!" jeritnya dari seberang sana. Sebelum mengakhiri percakapan yang tergesa-gesa, Ayub minta tolong agar kabar duka itu kusampaikan secara berantai ke teman-teman lain.
Kutimang ponsel dengan gamang. Kenangan kampung halaman begitu menyentak.
***
Aku tertegun menatap rumah Ayub. Dindingnya dari papan. Di samping kiri ada tumpukan kayu bakar. Tanaman hias memagari rumahnya. Ada kuntum kembang sepatu dan melati baru mekar. Sedap dipandang mata. Di depan rumah ada bale-bale bambu. Ruas-ruasnya sudah renggang. Kuucap salam di depan pintu yang separuh terbuka. Terdengar sahutan, langkah tergopoh, dan derit pintu yang dikuak.

"Man?!" Dia terperangah. Aku tersenyum. Sudah lama kami tak bersua. Detik itu juga, waktu seolah berhenti ketika kami saling berpelukan.
"Baru datang? Wah, pangling aku. Gemuk kau sekarang. Sudah jadi orang rupanya. Ah, sampai lupa aku. Ayo masuk." Runtun kalimatnya. Dia tepuk-tepuk dan rangkul bahuku. Aku duduk di kursi rotan ruang tamu. Tas kecil kuletakkan di lantai semen. Ayub memanggil istrinya. Dikenalkan padaku seraya minta dibuatkan dua gelas kopi.

Wajah Ayub yang sesegar pagi cepat menghapus letihku. Diam-diam kucermati sosoknya. Ia memakai kaos putih lusuh dan celana panjang hitam. Tubuhnya kekar. Kulitnya legam. Urat-urat lengannya menyembul keluar. Ketika senyum atau bicara, gigi putihnya berderet rapi. Dengan penuh keluguan ia dedahkan hidupnya kini.

Dari semua nama yang terpahat di batang randu, cuma Ayub yang masih setia pada kampung ini. Yang lainnya telah pergi menyabung nasib ke kota, ke pulau seberang, bahkan ke negeri orang. Ayub hidup dari mengurus sawah dan ladang warisan orang tua. Katanya, meski sempat diserang hama wereng, panen dua bulan lalu cukup lumayan. Hasilnya digunakan untuk menyulap tanah kosong di belakang rumah jadi empang. Dia pelihara ikan mas dan gurami untuk menambah penghasilan.

Aku ngilu waktu Ayub menyuruhku menginap di rumahnya. Tawaran itu menohok batinku. Aku tak punya apa-apa lagi di sini. Setengah windu setelah Emak menyusul Abah ke liang lahat, aku dan tiga saudaraku sepakat menjual sawah dan rumah. Kami ingin merantau. Mencari nasib yang lebih baik. Setelah hasil penjualan dibagi rata, kami pun berpencar ke penjuru mata angin.
Bagaimana menguraikan keadaanku pada Ayub? Aku cuma buruh pabrik tekstil di pulau seberang yang gaji tiap bulan ludes untuk menghidupi istri dan empat anak yang masih kecil. Bedeng kontrakan kami tak jauh dari kawasan pabrik. Berhimpitan dengan bedeng-bedeng lainnya. Lingkungannya kumuh, dikepung bacin selokan dan tempat pembuangan sampah. Kami sudah biasa antre mandi, buang hajat, atau cuci pakaian di WC umum yang ada di tiap pojok bedeng.

Ayub terpana mendengar ceritaku. Sambil terkekeh-kekeh dia menyela, "Jangankan mengalaminya, membayangkannya saja aku tak sanggup."

Menepis risau, kuraih gagang gelas. Kuseruput kopi yang dihidangkan istri Ayub. Ah, kopi yang digoreng sendiri lebih nikmat rasanya. Sambil menyulut rokok, Ayub berkata, "Kenapa tak pulang saja, Man? Beli sawah. Bertani. Meneruskan tradisi keluarga kita dulu."
Aku tercekat. Sekian lama di rantau, sekian jauh berjarak dengan kampung halaman, tak pernah terbersit di benakku untuk pulang.
***
Sepanjang jalan menuju rumah duka, kami kenang kawan-kawan lama. Maryamah, gadis lugu yang dulu pernah aku kesengsem padanya, kini jadi biduan orkes dangdut. Namanya diubah jadi Marta. Kata Ayub, jangan harap dia menengok jika dipanggil dengan nama asli. Darto, yang paling pintar di kelas kami, jadi tukang becak di kota. Sebulan sekali dia pulang menjenguk ibunya yang sakit tua. Aku kaget mendengar nasib Sumarno. Dia jadi bencong. Ngamen di gerbong-gerbong kereta. Lantas kuingat Abas. Ayub bilang, dia ketiban bulan. Hidupnya kini makmur. Mertua Abas orang kaya di kota kecamatan. Abas ditugasi mengurus koperasi. Kesempatan itu tak disia-siakan Abas. Dia pinjamkan uang pada orang-orang dengan bunga tinggi. Masih kuingat guyonan tentang Abas dulu. Jika ketemu Abas dan ular sawah dalam waktu bersamaan, lebih baik bunuh Abas duluan, sebab culasnya melebihi ular. Dan si Ahmad, anak pendiam dan alim itu, sekarang nyantri di sebuah pesantren di Madura.

Ah, waktu telah mengubah segalanya. Kisah teman-teman lama membuatku takjub, heran, campur sedih. Hingga tak terasa tempat yang kami tuju sudah di depan mata. Usai berdoa di sisi almarhum Pak Narto, kami beringsut keluar dari ruang tamu. Duduk di seberang jalan dekat batang bambu yang dihiasi kain kuning. Makin tinggi matahari, makin banyak pelayat datang. Aku termangu menatap rumah duka itu. Ada tarup besar memayungi halaman. Kursi-kursi plastik penuh terisi. Dari bisik-bisik yang kudengar, Marta yang membayar sewa tarup dan kursi itu. Dia tak bisa datang melayat.

Dulu warga kampung ini hidup penuh harmoni dan bersahaja. Meski tak ada hubungan darah, kami merasa selayaknya saudara. Kehidupan yang lambat laun sekeras batulah yang memaksa kami untuk memilih. Merantau jadi pilihan kami, anak-anak muda kala itu.

Sejauh-jauh terbang, warga kampung ini pasti mudik setiap lebaran. Cuma aku yang jarang pulang semenjak tak ada lagi yang tersisa di sini. Begitu juga jika ada yang meninggal, Kami yang di rantau pasti dikabari. Tapi, entah kenapa, sampai jenazah Pak Narto berkalang tanah di pemakaman umum di pojok kampung, hanya segelintir teman yang kutemui. Apakah sosok lelaki kurus jangkung dan ramah itu telah lesap dari ingatan mereka? Apakah rutinitas membuat mereka tak sempat lagi untuk sekedar menengok masa silam?
***
Hari kedua di kampung. Ayub mengajakku ke sawah. Pematang-pematang itu sudah tak sabar menunggu jejakmu, guraunya. Di jalan, kami berpapasan dengan warga yang hendak ke sawah atau ladang. Ada yang jalan kaki sambil menenteng pacul di bahu. Ada yang menggoes sepeda. Aku terharu. Mereka masih mengingatku dan meluangkan waktu sejenak untuk mengobrol.

Justru generasi muda kampung ini yang membuatku jengah. Beberapa kali kulihat mereka memacu sepeda motor sesuka hati. Ngebut di jalan tanah berbatu. Meninggalkan debu panjang di depan mataku.

Sawah Ayub beberapa puluh meter di depan sana, dekat rimbunan pohon pisang. Ketika masih ngungun menatap hamparan permadani hijau itu, Ayub mengajakku turun. Kapan terakhir kali aku meniti pematang? Alangkah jauh masa itu kutinggalkan.

Ayub melenggang tanpa kuatir tergelincir ke lumpur sawah. Aku jauh tertinggal di belakangnya. Melangkah tersendat-sendat sambil merentangkan tangan untuk menjaga keseimbangan.
Lir ilir, lir ilir. Tandure wis semilir. Tak ijo royo-royo. Tak sengguh temanten anyar...

            Hawa dingin meniup tengkukku ketika mendengar tembang gubahan Sunan Bonang itu. Sempat terbersit untuk mengikuti Ayub berdendang sepanjang pematang. Namun, entah kenapa, bibirku terasa kelu.

Dari huma beratap rumbia, kusaksikan Ayub berkubang di tengah sawah. Batang-batang padi meliuk. Menimbulkan suara gemerisik ketika saling bergesekan. Sepasang kepodang terbang melayang di keluasan langit. Suara serunai terdengar sayu-sayup sampai. Entah siapa peniupnya. Mendengarnya, aku seakan terhisap dan sesat dalam masa lalu.

Kami pulang menjelang petang. Memutari jalan kampung. Meski lebih jauh jaraknya, tapi aku tak keberatan. Kami mau ke sungai tempat dulu biasa berenang. Sesampainya di sana, hati-hati kami turuni tebing penuh lumut. Aku rindu membasuh muka dengan air sungai. Kutangkupkan kedua telapak tangan lalu kucelupkan ke dalam air. Ayub terkekeh-kekeh melihat kelakuanku yang mirip anak kecil. Setelah segar kami pulang. Baru beberapa puluh langkah menyusuri jalan sunyi, tiba-tiba Ayub mencekal bahuku. Tangannya menuding rimbun ilalang yang bergerak-gerak mencurigakan. Aku ingat, Ayub pernah membidik burung dengan ketapel. Bidikannya paling jitu di antara kami. Burung itu jatuh dari dahan pohon. Menggelepar di semak-semak. Kami mengendap-endap. Alangkah kaget kami memergoki pemandangan itu. Ada sepasang remaja tanggung sedang asyik bercumbu.

Ayub menghardik mereka. Aku terpana. Merasa tertangkap basah, wajah keduanya pucat dan merah padam. Mereka buru-buru membenahi pakaian lalu setengah berlari menuju tempat motor diparkir. Kami kembali melanjutkan langkah. Wajah Ayub kaku. Sepanjang jalan dia bersungut-sungut memaki kelakuan dua anak tadi.
***

Harum bunga kopi merayap dibawa angin. Bintang bertaburan di langit lama. Suara jangkerik dan kodok jadi musik alam. Aku serasa sedang berada di sorga.
"Kampung kita sudah berubah, Man," kata Ayub sambil menatap cahaya kunang-kunang yang timbul tenggelam di rimbun ilalang.
"Ya, aku seperti orang asing di sini," suaraku gamang.
"Semua teman kita pergi merantau. Jadi TKI, babu, atau buruh sepertimu. Tetua kampung meninggal satu-satu. Apalagi sejak teknologi modern menyerbu. Kampung kita makin kehilangan jati dirinya. Asal kau tahu, apa yang kau lihat di tepi sungai tadi belum seberapa..."
Kalimat Ayub terakhir membuatku risau. Aku enggan bertutur lebih banyak. Aku harus tahu diri.
Setelah memilih jadi manusia urban, aku tak punya kuasa apa-apa lagi di sini.
***
Izin cuti empat hari telah usai. Takziah tiga malam berturut-turut di rumah almarhum Pak Narto telah kuikuti. Aku harus pulang pagi ini. Rindu kampung halaman telah kutebus dengan hal-hal menyakitkan. Tapi biarlah kutelan dalam hati saja.
Dengan motor tuanya, Ayub mengantarku ke pasar di kampung sebelah. Di sana ada angkutan pedesaan yang trayeknya sampai ke terminal kota. Dari terminal itu aku akan menyambung perjalanan ke pulau seberang.

Persis ketika kami lewati pohon randu itu, lagi-lagi Ayub mengimbauku agar pulang saja. Sebenarnya tak ada lagi yang ingin kukatakan. Namun sekedar menghibur diri, kukatakan pada Ayub bahwa aku punya mimpi yang sederhana. Satu saat nanti, jika ada uang, aku mau pulang.
Membeli sawah. Bertani sambil beternak puyuh dan itik. Makan dari hasil keringat sendiri.
Hidup tenteram bersama anak istri.

Ayub berjanji kelak akan menagih mimpiku. Sementara aku membayangkan omong kosong yang baru saja kuucapkan, cuma bisa tersenyum giris...***


PLEIDOI
Tuhan, izinkan aku membacakan Pleidoi ini jauh hari sebelum pengadilan suci-Mu datang, walau tak sedikit pun aku pantas memintanya lantaran segunung besar kefanaanku. Aku tahu, Tuhan, bila lantaran kenekatanku tuk mencoba paksa berbicara dengan-Mu ini hanya kan membuat amarah para pendeta palsu di kuil-kuil itu kian semakin terburai. Ya, kuil para durjana yang pelitanya berbahan bakar keringat dan darah manusia-manusia sepertiku. Tapi biarlah, kan ku ambil resiko itu. Biarlah kulahap saja amarah mereka yang menggunung; bergelegar; dengan lahar-lahar kebenciannya yang semakin liar.
Tapi sebelum itu, Tuhan, izinkan kuputarkan kembali rekaman hidupku satu setengah windu terakhir silam, yang bermuara pada Pleidoi ini.
Dua belas tahun silam, aku terkesiap. Darah mudaku mendidih meletup-letup, suara nuraniku membuncah tak berpola. Segala keyakinanku tentang satu-satunya jalan menuju kebenaran-Mu, yang sejak dini kuyakini, terabrasi gelombang berbagai logika teologi pembebasan, yang menggugat cara-cara penyembahanku kepada-Mu.
“Kau pikir, kau akan menjadi kekasih Tuhan yang sejati hanya dengan komat-kamit sucimu itu?” sebuah suara menghardik nurani kosongku.

Tak kusangka, seorang kerabat setiaku menjadi begitu sinis dengan cara rutinitasku memuji-Mu. Jelas, kubantah ia keras-keras.
Ah... rupanya, ia tak main-main dengan sinisme yang mencoba menggugat ritualitas status quo tentang caraku mengabdi kepada-Mu. Hingga suatu ketika, dibawakannya aku seorang pemuda dengan wajah bersinar, hingga silau aku dibuatnya.
“Sudah waktunya bagimu untuk kembali ke jalan Tuhan yang sesungguhnya,” sabdanya.

Aih..aih, sombong benar pemuda ini, fikirku. Sok benar ia mengguruiku, yang tak selewat pun lalai memenuhi kewajiban pemujaanku kepada-Mu. Tercabar aku dibuatnya. Kupertaruhkan segenap energi intelektual pada diriku untuk meningkuhnya. Tapi aku kalah.
Entah mengapa, aku yang selalu tampil sebagai juara debat menjadi tak berdaya dibuatnya. Semacam ada sekumpulan ruh suci yang meningkarku. Ruh-ruh itu tampaknya bersekongkol dengan pemuda dengan wajah bersinar tadi. Aku merasa ruh-ruh itu adalah bala yang Kau utus untuk menuntunku ke jalan-Mu. Aku ikhlas atas kekalahanku, yang karenanya justru awal dari segala kemenanganku. Setidaknya, itu sugesti yang hadir sebagai hadiah hiburan atas kekalahan tadi.
Betul saja, sejurus setelah aku dimentori pemuda dengan wajah bersinar tadi, mukjizat-mukjizat segera melingkariku. Kurasakan atmosfer pencerahan tiada tara, kekuatan hati tanpa batas. Kekuatan tentang diorama pengetahuan suci segera menumpat ruang-ruang logika ilmiah di otakku.
Kurasakan, setiap tetes darah yang mengalir di tubuhku segera terwarnai oleh kegemilauan kisah para ksatria pedang di masa silam, yang bergelimang pujian lantaran kegemilangan kisah-kisah ekspansif mereka dalam membesarkan kerajaan-Mu.
“Aku pun akan segera menjadi seperti mereka,” begitu suara-suara sugestif yang selalu menyemangati setiap nafasku. Sugesti yang senantiasa dihembuskan oleh fulan dengan silau sinar diwajahnya.
Hei... Betapa gagahnya aku. Ya ... itu karena aku telah berubah: dari seorang manusia biasa dengan cita-cita sederhana, menjadi manusia dengan ruh baru, ruh yang pernah menggerakkan keberanian para ksatria pedang-Mu tadi, yang legendanya tak kan lekang hingga akhir zaman nanti. Walau ku hidup di tempat dan zaman yang berbeda, dengan cara yang berbeda, tapi kini aku adalah mereka. Jiwa dan semangat mereka telah tereinkarnasi ke dalam jiwaku.
Bedanya, aku tiada harus menghunus pedang baja. Aku hanya perlu menghunus rangkaian sabda-sabda suci-Mu untuk menulari orang-orang agar menjadi ksatria seperti diriku. Ya...dengannya kubunuhi doktrin-doktin tentang pengabdian suci konvensional, yang kami anggap sudah tak lagi murni. Ya... dengannya lalu kutulari mereka dengan keyakinan atas cara-cara pengabdian suciku.
Tak terhitung, mungkin beribu sudah manusia berubah menjadi sepertiku, bertungkus lumus dengan cara-cara suci yang aku yakini sebagai satu-satunya karpet merah menuju pemainan surga-Mu. Meskipun, untuk itu, kukorbankan segala yang kumiliku: cinta, keluarga, karier, uang, .... segalanya. Aku menjadi seperti vampire. Aku menulari mereka, kubuat mereka menjadi seperti aku. Seperti juga pemuda berwajah terang tadi menulariku.

Jalan yang kutempuh bukannya tanpa konsekwensi. Aku, juga orang-orang sepertiku, menjadi hingga ketohoran uang lantarannya. Sebagian lagi  ketohoran karir, ketohoran rumah tangga. Seperti juga aku, setiap sen pendapatan yang ada terkuras habis untuk membeli bongkah-bongkah emas yang akan menjadi bahan pelester dinding-dinding bangunan suci yang menjadi monumen kelompok kami. Juga, batu-batu pualam kelas satu, dan segala sesuatu yang kami persembahkan sebagai wujud cinta kami kepada-Mu.
Bahkan, sebagian di antara kami, yang memiliki derajat nyali beribu kali lipat, memilih jalan samurai untuk segera berada di sisi-Mu. Mereka ledakkan tubuh-tubuh mereka, juga tubuh-tubuh manusia-manusia yang mereka anggap kafir, atau murtad, atau apalah namanya, yang belakangan kusadari ternyata semua vonis kafir itu tak adil.
Cara-cara itu, sungguh sangat tidak mencerminkan sifat-sifat-Mu. Syukurlah, dalam barisan kami, cara-cara semacam itu kami haramkan. Kami sadar: kemiskinan, kesengsaraan, bahkan kematian sekali pun tak sebanding dengan segala nikmat yang telah Kau gerujugkan kepada kami.
Hingga suatu ketika....
“Enak saja kau bermimpi tentang bidadari. Bukankah pengabdian sucimu telah kau batalkan demi hati nuranimu yang picik, yang lebih berpihak pada tangisan jabang bayi merahmu yang kehausan susu, demi segala kemuliaan semu yang tak kan laku kau tukar walau hanya dengan sebutir kerikil surga.
Hei, orang kafir ... jangankan bidadari, bau surga pun telah diharamkan bagimu?” begitu aku dihardik salah seorang mentor pada kelompok kami. Seketika, aku teringat dengan parade sumbang sumpah serapahku sendiri, lima tahun silam, yang kusemburatkan kepada seorang kader muda yang mulai goyah keyakinannya.
Ya ... aku masih ingat, waktu itu aku telah menjadi seorang perwira dalam kelompok itu. Dengan pangkatku itu, kusumpah-serapahi dua orang kadet baru di kelompok pergerakan bawah tanah tempat kami bergumul dengan ideologi sektarian. Sumpah serapah yang secara spontan kuhadiahkan lantaran keduanya memilih mundur teratur dari derap perjuangan.
Sungguh, ketika itu, kekecewaanku memuncak. Padahal sudah kutempa mereka berbulan hari agar kokoh menyandang peran sebagai ksatria penjunjung tinggi ajaran terluhung di muka bumi ini. Seperti halnya aku, mereka pun telah bersumpah atas nama Tuhan: memaklumatkan diri untuk tak pernah murtad dari doktrin-doktrin perjuangan yang telah kami yakini, dan kami pilih sebagai jalan hidup.
Namun sesungguhnya, di balik sumpah serapahku itu, nuraniku meneriakkan kata protes kepada nurani diri: “lancang benar kau berakting menjadi Tuhan. Kau pinjam kuasa-Nya, tanpa seizin Dia. Bukankah hanya Tuhan yang berkuasa memilih pilah jiwa-jiwa yang kelak berhak mewarisi kunci-kunci pembuka pintu neraka dan surga? Apakah mungkin, Tuhan, zat suci nan pemaaf, akan membiarkan begitu saja sebatalion algojo neraka membantai dua kadetmu itu hanya karena vonis kafir dari seorang fana sepertimu? Ah...sungguh tamparan keras dari dalam nuraniku yang paling dalam.
Tapi, Tuhan ... betapa kecewanya aku. Ketika aku telah secara pasti menapaki tangga demi tangga karir keperwiraan di istana para lelaki yang mendaulat diri sebagai perwira-Mu, segera saja keyakinan mutlakku tentang segala jalan ini mulai terusik. Saat aku telah mulai bisa bercengkrama dengan para “Manusia Agung” di kelompok perjuangan ini, yang garis-garis guratan bekas-bekas keprihatinan dan keletihannya telah hilang, justru mulai melemah daya pacu juangku.
Aku kecewa, Tuhan. Ketika ratusan ribu pengikut gerakan perjuangan kami berpeluh keringat mengasong dagangan di terminal-terminal bus agar kotak-kotak uang untuk membeli bahan bakar perjuangan kami penuh terisi, justru para perwira tinggi yang kutaati titahnya bertingkah mewah dengan biaya dari kumpulan upeti tadi.
Dan aku kecewa, ketika satu per satu daun dan ranting organisasi perjuangan berontokan, dan ketika seratus batalyon berantakan karena keletihan berjuang, para manusia-manusia agung tadi justru berdalih: “Biar saja mereka melenggang pergi, tak kan teruk benar dampaknya bagi perjuangan kita. Tanpa mereka, penerokaan ini akan terus melangkah hingga tapal batas terakhir.” Tuhan, mana mungkin biduk kan sampai di pulau tujuan jika para awaknya mati kehausan di tengah samudera?
Tuhan, salahkah aku berpaling dari mereka karena telah kusaksikan titih petingkah para "manusia-manusia setengah dewa-Mu" itu yang telah bertingkuh bantah melantik diri sebagai para hulubalang-Mu? Padahal, yang terpancar dari mereka justru perilaku-perilaku makhluk setengah manusia setengah iblis.

Salahkah kutinggalkan para sekutu-Mu yang telah melukai hati para pengabdi-Mu yang salih? Mereka, yang sedang dimabuk kekuasaan dan harta? Mereka, yang menghardik para kurcaci yang selama ini telah memanggul tandu-tandu emas yang mereka tumpangi? Oh...Tuhan, sebegitu tak berhargakah nilai para kurcaci kerdil, yang telah serahkan segalanya tuk jalan-Mu?
Tuhan, haruskah aku tertakluk kepada para bendahari kerajaan-Mu yang justru saling menilap berton-ton emas titipan para hamba-Mu yang salih, hanya tuk membiayai dandanan adiluhung, yang mereka gemari?

Tuhan, biarlah letih dan keringatku yang menitis deras selama satu setengah windu ini terbuang tanpa pamrih. Sebab kutahu, sepotong episode hidupku yang telah aku wakafkan untuk meneroka kembali negeri ini, yang katanya penuh dengan tumpak belukar kejahiliahan; dan tiwikramaku hingga aku berpeluh letih untuk misi suci tanpa batas dan tanpa akhir, juga napak tilasku menyusuri ulang langkah dan kisah para manusia suci utusan-Mu, semestinya memang bukan sesuatu yang harus kupamrihi.
Aaah ... tapi kuyakin, sepasang malaikat yang bersemayam di sepasang pundak ini tak kan alpa mencatatkan itu semua untukku, agar bisa kutukar kelak dengan sepasang bidadari genit, seperti janji-janji bagi manusia-manusia yang memilih jalan hidup berpeluh kesucian.
Atau, kelak kan kutukar dengan sepasang sayap putih bersih yang kan membawaku terbang melayang-layang di angkasa nirwana raya. Tuhan, bukankah tiada satu pun kebajikan yang tanpa imbalan dari-Mu?
Tapi Tuhan, masihkah boleh kuberharap setinggi itu? Bukankah pertapaan suciku tak tuntas? Dari yang kudengar dari tutur kata para perwira  nan tinggi  yang dulu kutaati, yang dulu kujunjung tinggi, para saksi ketika aku berjanji setia tuk menjadi tentara-Mu: Aku sekarang seorang bergelar kafir lantaran keingkaran atas segala ikrar kesetiaanku. Kesetiaan yang kububuhkan di atas sebuah kontrak bermateraikan darah. Dengannya, tak sekadar aku gadaikan, bahkan telah kujual segenap jiwa dan ragaku demi janji-janjimu: senyum-Mu dan, tentu saja, surga-Mu.
Tapi Tuhan, benarkah semua perjanjian jual beli itu kini batal terhapus dosa sejenakku: dosa yang aku lakukan demi membayar sekumpulan dosa-dosaku kepada-Mu lantaran mengabaikan jeritan pasukanku, dan segenap keluarga mereka?
Benarkah kini aku sekarang seorang laknat hanya karena aku menerompetkan suara-suara hatiku, juga anak istriku, yang sesungguhnya?
Tuhan, sungguh aku dalam kebimbangan: mana yang lebih brengsek: aku atau mereka?
harisjimbe.blogspot.com

Peradilan Rakyat

Cerpen Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"   
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***


 

Laki-Laki Sejati

Cerpen Putu Wijaya

Seorang perempuan muda bertanya kepada ibunya. Ibu, lelaki sejati itu seperti apa?
Ibunya terkejut. Ia memandang takjub pada anak yang di luar pengamatannya sudah menjadi gadis jelita itu. Terpesona, karena waktu tak mau menunggu. Rasanya baru kemarin anak itu masih ngompol di sampingnya sehingga kasur berbau pesing. Tiba-tiba saja kini ia sudah menjadi perempuan yang punya banyak pertanyaan.
Sepasang matanya yang dulu sering belekan itu, sekarang bagai sorot lampu mobil pada malam gelap. Sinarnya begitu tajam. Sekelilingnya jadi ikut memantulkan cahaya. Namun jalan yang ada di depan hidungnya sendiri, yang sedang ia tempuh, nampak masih berkabut. Hidup memang sebuah rahasia besar yang tak hanya dialami dalam cerita di dalam pengalaman orang lain, karena harus ditempuh sendiri.
Kenapa kamu menanyakan itu, anakku?
Sebab aku ingin tahu.
Dan sesudah tahu?
Aku tak tahu.
Wajah gadis itu menjadi merah. Ibunya paham, karena ia pun pernah muda dan ingin menanyakan hal yang sama kepada ibunya, tetapi tidak berani. Waktu itu perasaan tidak pernah dibicarakan, apalagi yang menyangkut cinta. Kalaupun dicoba, jawaban yang muncul sering menyesatkan. Karena orang tua cenderung menyembunyikan rahasia kehidupan dari anak-anaknya yang dianggapnya belum cukup siap untuk mengalami. Kini segalanya sudah berubah. Anak-anak ingin tahu tak hanya yang harus mereka ketahui, tetapi semuanya. Termasuk yang dulu tabu. Mereka senang pada bahaya. Setelah menarik napas, ibu itu mengusap kepala putrinya dan berbisik.
Jangan malu, anakku. Sebuah rahasia tak akan menguraikan dirinya, kalau kau sendiri tak penasaran untuk membukanya. Sebuah rahasia dimulai dengan rasa ingin tahu, meskipun sebenarnya kamu sudah tahu. Hanya karena kamu tidak pernah mengalami sendiri, pengetahuanmu hanya menjadi potret asing yang kamu baca dari buku. Banyak orang tua menyembunyikannya, karena pengetahuan yang tidak perlu akan membuat hidupmu berat dan mungkin sekali patah lalu berbelok sehingga kamu tidak akan pernah sampai ke tujuan. Tapi ibu tidak seperti itu. Ibu percaya zaman memberikan kamu kemampuan lain untuk menghadapi bahaya-bahaya yang juga sudah berbeda. Jadi ibu akan bercerita. Tetapi apa kamu siap menerima kebenaran walaupun itu tidak menyenangkan?
Maksud Ibu?
Lelaki sejati anakku, mungkin tidak seperti yang kamu bayangkan.
Kenapa tidak?
Sebab di dalam mimpi, kamu sudah dikacaukan oleh bermacam-macam harapan yang meluap dari berbagai kekecewaan terhadap laki-laki yang tak pernah memenuhi harapan perempuan. Di situ yang ada hanya perasaan keki.
Apakah itu salah?
Ibu tidak akan bicara tentang salah atau benar. Ibu hanya ingin kamu memisahkan antara perasaan dan pikiran. Antara harapan dan kenyataan. 
Aku selalu memisahkan itu. Harapan adalah sesuatu yang kita inginkan terjadi yang seringkali bertentangan dengan apa yang kemudian ada di depan mata. Harapan menjadi ilusi, ia hanya bayang-bayang dari hati. Itu aku mengerti sekali. Tetapi apa salahnya bayang-bayang? Karena dengan bayang-bayang itulah kita tahu ada sinar matahari yang menyorot, sehingga berkat kegelapan, kita bisa melihat bagian-bagian yang diterangi cahaya, hal-hal yang nyata yang harus kita terima, meskipun itu bertentangan dengan harapan.
Ibunya tersenyum.
Jadi kamu masih ingat semua yang ibu katakan?
Kenapa tidak?
Berarti kamu sudah siap untuk melihat kenyataan?
Aku siap. Aku tak sabar lagi untuk mendengar. Tunjukkan padaku bagaimana laki-laki sejati itu.
Ibu memejamkan matanya. Ia seakan-akan mengumpulkan seluruh unsur yang berserakan di mana-mana, untuk membangun sebuah sosok yang jelas dan nyata.
Laki-laki yang sejati, anakku katanya kemudian, adalah… tetapi ia tak melanjutkan.
Adalah?
Adalah seorang laki-laki yang sejati.
Ah, Ibu jangan ngeledek begitu, aku serius, aku tak sabar.
Bagus, Ibu hanya berusaha agar kamu benar-benar mendengar setiap kata yang akan ibu sampaikan. Jadi perhatikan dengan sungguh-sungguh dan jangan memotong, karena laki-laki sejati tak bisa diucapkan hanya dengan satu kalimat. Laki-laki sejati anakku, lanjut ibu sambil memandang ke depan, seakan-akan ia melihat laki-laki sejati itu sedang melangkah di udara menghampiri penjelmaannya dalam kata-kata.
Laki-laki sejati adalah…
Laki-laki yang perkasa?!
Salah! Kan barusan Ibu bilang, jangan menyela! Laki-laki disebut laki-laki sejati, bukan hanya karena dia perkasa! Tembok beton juga perkasa, tetapi bukan laki-laki sejati hanya karena dia tidak tembus oleh peluru tidak goyah oleh gempa tidak tembus oleh garukan tsunami, tetapi dia harus lentur dan berjiwa. Tumbuh, berkembang bahkan berubah, seperti juga kamu.
O ya?
Bukan karena ampuh, bukan juga karena tampan laki-laki menjadi sejati. Seorang lelaki tidak menjadi laki-laki sejati hanya karena tubuhnya tahan banting, karena bentuknya indah dan proporsinya ideal. Seorang laki-laki tidak dengan sendirinya menjadi laki-laki sejati karena dia hebat, unggul, selalu menjadi pemenang, berani dan rela berkorban. Seorang laki-laki belum menjadi laki-laki sejati hanya karena dia kaya-raya, baik, bijaksana, pintar bicara, beriman, menarik, rajin sembahyang, ramah, tidak sombong, tidak suka memfitnah, rendah hati, penuh pengertian, berwibawa, jago bercinta, pintar mengalah, penuh dengan toleransi, selalu menghargai orang lain, punya kedudukan, tinggi pangkat atau punya karisma serta banyak akal. Seorang laki-laki tidak menjadi laki-laki sejati hanya karena dia berjasa, berguna, bermanfaat, jujur, lihai, pintar atau jenius. Seorang laki-laki meskipun dia seorang idola yang kamu kagumi, seorang pemimpin, seorang pahlawan, seorang perintis, pemberontak dan pembaru, bahkan seorang yang arif-bijaksana, tidak membuat dia otomatis menjadi laki-laki sejati!
Kalau begitu apa dong?
Seorang laki-laki sejati adalah seorang yang melihat yang pantas dilihat, mendengar yang pantas didengar, merasa yang pantas dirasa, berpikir yang pantas dipikir, membaca yang pantas dibaca, dan berbuat yang pantas dibuat, karena itu dia berpikir yang pantas dipikir, berkelakuan yang pantas dilakukan dan hidup yang sepantasnya dijadikan kehidupan.
Perempuan muda itu tercengang.
Hanya itu?
Seorang laki-laki sejati adalah seorang laki-laki yang satu kata dengan perbuatan!
Orang yang konsekuen?
Lebih dari itu!
Seorang yang bisa dipercaya?
Semuanya!
Perempuan muda itu terpesona.
Apa yang lebih dari yang satu kata dan perbuatan? Tulus dan semuanya? Ahhhhh! Perempuan muda itu memejamkan matanya, seakan-akan mencoba membayangkan seluruh sifat itu mengkristal menjadi sosok manusia dan kemudian memeluknya. Ia menikmati lamunannya sampai tak sanggup melanjutkan lagi ngomong. Dari mulutnya terdengar erangan kecil, kagum, memuja dan rindu. Ia mengalami orgasme batin.

Ahhhhhhh, gumannya terus seperti mendapat tusukan nikmat. Aku jatuh cinta kepadanya dalam penggambaran yang pertama. Aku ingin berjumpa dengan laki-laki seperti itu. Katakan di mana aku bisa menjumpai laki-laki sejati seperti itu, Ibu?
Ibu tidak menjawab. Dia hanya memandang anak gadisnya seperti kasihan. Perempuan muda itu jadi bertambah penasaran.
Di mana aku bisa berkenalan dengan dia?
Untuk apa?
Karena aku akan berkata terus-terang, bahwa aku mencintainya. Aku tidak akan malu-malu untuk menyatakan, aku ingin dia menjadi pacarku, mempelaiku, menjadi bapak dari anak-anakku, cucu-cucu Ibu. Biar dia menjadi teman hidupku, menjadi tongkatku kalau nanti aku sudah tua. Menjadi orang yang akan memijit kakiku kalau semutan, menjadi orang yang membesarkan hatiku kalau sedang remuk dan ciut. Membangunkan aku pagi-pagi kalau aku malas dan tak mampu lagi bergerak. Aku akan meminangnya untuk menjadi suamiku, ya aku tak akan ragu-ragu untuk merayunya menjadi menantu Ibu, penerus generasi kita, kenapa tidak, aku akan merebutnya, aku akan berjuang untuk memilikinya.
Dada perempuan muda itu turun naik.
Apa salahnya sekarang wanita memilih laki-laki untuk jadi suami, setelah selama berabad-abad kami perempuan hanya menjadi orang yang menunggu giliran dipilih?
Perempuan muda itu membuka matanya. Bola mata itu berkilat-kilat. Ia memegang tangan ibunya.
Katakan cepat Ibu, di mana aku bisa menjumpai laki-laki itu?
Bunda menarik nafas panjang. Gadis itu terkejut.
Kenapa Ibu menghela nafas sepanjang itu?
Karena kamu menanyakan sesuatu yang sudah tidak mungkin, sayang.
Apa? Tidak mungkin?
Ya.
Kenapa?
Karena laki-laki sejati seperti itu sudah tidak ada lagi di atas dunia.
Oh, perempuan muda itu terkejut.
Sudah tidak ada lagi?
Sudah habis.
Ya Tuhan, habis? Kenapa?
Laki-laki sejati seperti itu semuanya sudah amblas, sejak ayahmu meninggal dunia.
Perempuan muda itu menutup mulutnya yang terpekik karena kecewa.
Sudah amblas?
Ya. Sekarang yang ada hanya laki-laki yang tak bisa lagi dipegang mulutnya. Semuanya hanya pembual. Aktor-aktor kelas tiga. Cap tempe semua. Banyak laki-laki yang kuat, pintar, kaya, punya kekuasaan dan bisa berbuat apa saja, tapi semuanya tidak bisa dipercaya. Tidak ada lagi laki-laki sejati anakku. Mereka tukang kawin, tukang ngibul, semuanya bakul jamu, tidak mau mengurus anak, apalagi mencuci celana dalammu, mereka buas dan jadi macan kalau sudah dapat apa yang diinginkan. Kalau kamu sudah tua dan tidak rajin lagi meladeni, mereka tidak segan-segan menyiksa menggebuki kaum perempuan yang pernah menjadi ibunya. Tidak ada lagi laki-laki sejati lagi, anakku. Jadi kalau kamu masih merindukan laki-laki sejati, kamu akan menjadi perawan tua. Lebih baik hentikan mimpi yang tak berguna itu.
Gadis itu termenung. Mukanya nampak sangat murung.
Jadi tak ada harapan lagi, gumamnya dengan suara tercekik putus asa. Tak ada harapan lagi. Kalau begitu aku patah hati.
Patah hati?
Ya. Aku putus asa.
Kenapa mesti putus asa?
Karena apa gunanya lagi aku hidup, kalau tidak ada laki-laki sejati?
Ibunya kembali mengusap kepala anak perempuan itu, lalu tersenyum.
Kamu terlalu muda, terlalu banyak membaca buku dan duduk di belakang meja. Tutup buku itu sekarang dan berdiri dari kursi yang sudah memenjarakan kamu itu. Keluar, hirup udara segar, pandang lagit biru dan daun-daun hijau. Ada bunga bakung putih sedang mekar beramai-ramai di pagar, dunia tidak seburuk seperti yang kamu bayangkan di dalam kamarmu. Hidup tidak sekotor yang diceritakan oleh buku-buku dalam perpustakaanmu meskipun memang tidak seindah mimpi-mimpimu. Keluarlah anakku, cari seseorang di sana, lalu tegur dan bicara! Jangan ngumpet di sini!
Aku tidak ngumpet!
Jangan lari!
Siapa yang lari?
Mengurung diri itu lari atau ngumpet. Ayo keluar! 
Keluar ke mana?
Ke jalan! Ibu menunjuk ke arah pintu yang terbuka. Bergaul dengan masyarakat banyak.
Gadis itu termangu. 
Untuk apa? Dalam rumah kan lebih nyaman?
Kalau begitu kamu mau jadi kodok kuper!
Tapi aku kan banyak membaca? Aku hapal di luar kepala sajak-sajak Kahlil Gibran!
Tidak cukup! Kamu harus pasang omong dengan mereka, berdialog akan membuat hatimu terbuka, matamu melihat lebih banyak dan mengerti pada kelebihan-kelebihan orang lain.
Perempuan muda itu menggeleng.
Tidak ada gunanya, karena mereka bukan laki-laki sejati.
Makanya keluar. Keluar sekarang juga!
Keluar?
Ya.
Perempuan muda itu tercengang, suara ibunya menjadi keras dan memerintah. Ia terpaksa meletakkan buku, membuka earphone yang sejak tadi menyemprotkan musik R & B ke dalam kedua telinganya, lalu keluar kamar.
Matahari sore terhalang oleh awan tipis yang berasal dari polusi udara. Tetapi itu justru menolong matahari tropis yang garang itu untuk menjadi bola api yang indah. Dalam bulatan yang hampir sempurna, merahnya menyala namun lembut menggelincir ke kaki langit. Silhuet seekor burung elang nampak jauh tinggi melayang-layang mengincer sasaran. Wajah perempuan muda itu tetap kosong.
Aku tidak memerlukan matahari, aku memerlukan seorang laki-laki sejati, bisiknya.
Makanya keluar dari rumah dan lihat ke jalanan!
Untuk apa?
Banyak laki-laki di jalanan. Tangkap salah satu. Ambil yang mana saja, sembarangan dengan mata terpejam juga tidak apa-apa. Tak peduli siapa namanya, bagaimana tampangnya, apa pendidikannya, bagaimana otaknya dan tak peduli seperti apa perasaannya. Gaet sembarang laki-laki yang mana saja yang tergapai oleh tanganmu dan jadikan ia teman hidupmu!
Perempuan muda itu tecengang. Hampir saja ia mau memprotes. Tapi ibunya keburu memotong. Asal, lanjut ibunya dengan suara lirih namun tegas, asal, ini yang terpenting anakku, asal dia benar-benar mencintaimu dan kamu sendiri juga sungguh-sungguh mencintainya. Karena cinta, anakku, karena cinta dapat mengubah segala-galanya.
Perempuan muda itu tercengang.
Dan lebih dari itu, lanjut ibu sebelum anaknya sempat membantah, lebih dari itu anakku, katanya dengan suara yang lebih lembut lagi namun semakin tegas, karena seorang perempuan, anakku, siapa pun dia, dari mana pun dia, bagaimana pun dia, setiap perempuan, setiap perempuan anakku, dapat membuat seorang lelaki, siapa pun dia, bagaimana pun dia, apa pun pekerjaannya bahkan bagaimana pun kalibernya, seorang perempuan dapat membuat setiap lelaki menjadi seorang laki-laki yang sejati!
 ***

CERMIN
karya NANO RIANTIARNO

PANGGUNG MULA-MULA GELAP. GELAP SEKALI. TIBA-TIBA TERDENGAR TERIAKAN KETAKUTAN SEORANG LAKI-LAKI. PANGGUNG MASIH TETAP GELAP.

SUARA :
Jangan! Jangan tinggalkan saya! Tolong! Tolong! Tolong! Nyalakan lampu, saya takut gelap! Saya takut sendirian! Tolong! Jangan tinggalkan saya! Cahaya, saya butuh cahaya! Saya butuh terang! Tolong…….cahaya…….cahaya.

DAN LAMPU WARNA PINK MENYOROT (FADE-IN) MELINGKARI AREA DIMANA DIA BERTERIAK-TERIAK DILANTAI, SAMPING SEBUAH KURSI BESI. DALAM PENJARA SEORANG LAKI-LAKI KIRA-KIRA BERUMUR 35 TAHUN KAGET KETIKA SADAR BAHWA DIA SEKARANG BERADA DALAM TERANG. DIA KECAPAIAN DAN TERENGAH-ENGAH.MENGHIMPASKAN PANTATNYA DI LANTAI. PADA SAAT YANG HAMPIR BERSAMAAN, SETELAH UJUD SELURUH LAKI-LAKI ITU TERLIHAT SAMAR-SAMAR LAMPU MENYALA MENYOROTI AREA DI DEPAN DIA. SEORANG LAKI-LAKI LAIN YANG SELURUHNYA SAMA DENGAN DIA JUGA DUDUK DI LANTAI SAMPING SEBUAH KURSI BESI YANG SAMA. LAMPU BERWARNA PINK JUGA. DUA LELAKI YANG SAMA DUDUK DI LANTAI SAMPING KURSI BESI YANG SAMA TERSEKELILING GELAP. GELAP SAKALI.
LAKI-LAKI :

He………..
(LAKI-LAKI DI DEPANNYA MENYAPANYA JUGA PERSIS TAPI TANPA SUARA)

Hee……….. Ya! Masih ada. Kukira sudah pergi bersama yang lain-lain. He, aku senang kau masih ada. Di depan situ menatapku. Temanku Cuma kamu sekarang. Di sini pengap. Keringat tak henti-hentinya menyembul dari pori-pori kulit. Aku khawatir kalau persediaan air dalam tubuhku habis, pasti bukan keringat lagi yang keluar tapi darah. Dan kalau darah sudah habis…….. sebuah pintu terbuka lebar-lebar dan aku harus mendorong diriku sendiri untuk bilang ayo masuki ruangan besar di sebaliknya. Ruangan besar dari sebuah gedung yang besar. Ada apa di dalamnya? Perabotan-perabotannya bagus? Jenis kursi-kursinya dibikin dari kayu apa? Jati tua atau mahoni? Karpetnya? Dari India atau Persia?

LAKI-LAKI :
Apa ada hiasan-hiasan dindingnya? Dari apa? Kuningan apa perunggu? Lampu gantungnya dari kristal? Kamar mandinya bersih, artinya tidak terdapat lipas di sudut-sudutnya. Dapurnya bagaimana? Selalu tersedia makanan hangat dalam lemari? Aku pedagang barang antik, harus tahu secara detail perabotan-perabotan tiap ruangan yang kumasuki. Bagaimana? Apa aku akan ditemani atau sendirian? (BERBISIK) Apa Su ada disitu……apa dia menungguku disitu? (DIAM MENUNGGU JAWABAN). Ya aku tahu kau tidak tahu. Tak seorangpun yang tahu sebelumnya. Masuki gedung itu dulu, baru kau akan bisa bercerita ada apa di dalamnya. Tapi siapa saja yang masuk ruangan besar itu, tak akan pernah kembali lagi. Pans, Cuma keluhan, jangan khawatir seorang kawan bisa menyejukkan suasana. Ada seorang di sekitar kita lebih baik daripada sama sekali tidak ada. Pada dasarnya semua orang takut sendirian. Aku juga. Kau juga. Benarkan. Kita ngobrol-ngobrol, untuk mengisi waktu. Obrolan yang intim bisa menambah rasa kekawanan. Tidak usah dijawab. Aku yakin pasti kau mau. Ya, kita akan ngobrol-ngobrol. Aku dapat pertama, kamu yang kedua. Akan kubeberkan semuanya tanpa malu-malu. Tapi musti janji, begitu aku selesai kau segera menyambungnya. Dengan begitu tak akan terasa lagi waktu lewat. Pagi-pagi sekali kita akan berpelukan mengucapkan salam perpisahan, barangkali sambil tertawa-tawa atau barangkali kita akan saling menangisi. Entahlah! Jangan menjawab, aku tahu kau sama seperti aku, termasuk orang-orang yang selalu berusaha untuk menepati janji. Dengan adanya kau di situ, meskipun kau tidak menyapa apa-apa bisa kupastikan kita akan selalu bersama-sama, setia sampai mati.

(BERPIKIR HENDAK MEMULAINYA DARIMANA).

He…….he…….he he he! Heeeeeeeeeeeeee………………..

(DIA MEMATUT-MATUT DIRI. BERTINGKAH SEBAGAI SEORANG LAKI-LAKI JANTAN. DIA MELANGKAH DENGAN TEGAP. KE MUKA KE BELAKANG).
Sampai mati!

(BERTINGKAH SEBAGAI TENTARA. BERTINGKAH SEBAGAI PENARI. BERTINGKAH SEBAGAI ORATOR. BERTINGKAH SEBAGAI BADUT. LAKI-LAKI DI DEPANNYA MENIRUKAN GERAK-GERAK YANG DIA LAKUKAN DENGAN PERSIS. LAKI-LAKI TERTAWA KEGELIAN).

Tiruan yang sungguh-sungguh sempurna…….sempurna…….sempurna.

(LAKI-LAKI ITU MENANGIS. DARI PERLAHAN SAMPAI MENGGERUNG-GERUNG. DIA MERATAP)

Sampai mati……. Su! Su! Sunni! Kenapa jadi begini? Kenapa kau pergi? Kenapa aku ada di sini? Kenapa mesti ada hal-hal yang mendorong kita melakukan hal-hal? Kenapa kamu tidak mau menurut? Kenapa waktu kamu masih ada, rasanya semua terang dan jelas. Tanpa kabut. Tiap kupandangi diriku di kaca, maka kulihat ujud seorang laki-laki yang utuh. Lalu sekarang, kau entah ada di mana? Jarak dan tembok memisahkan kita. Semua yang terlihat jadi samara-samar. Bukan maksudku melakukan itu. Terjadi begitu saja, didorong oleh kekuatan yang ajaib! Seperti alir sungai yang dibendung, makin tinggi bendungannya makin banyak air yang tertampung dan tekanan untuk molos mencari aliran lain makin besar. Lalu suatu saat air tak terbendung lagi sedang tekanan makin besar, makin besar. Dan tiba-tiba bendungan jebol!

Kau tanamkan bibit di sini. Tumbuh sedikit demi sedikit hingga berbunga, waktu kelopak bunga itu merekah, dia bersuara seperti terompet. Suaranya memekakkan telinga. Dan Sunniii…gemanya! Gemanya melengking! Tak tahan aku untuk tidak berbuat apa-apa. Dan bisik-bisik itu. Bisik-bisik yang memerintahkan aku supaya melakukan niatku, musnahkan! Musnahkan Hancurkan! Hancurkan biar jadi abu sekalian. Dari abu kembali jadi abu, kata bisik-bisik itu dalam telinga.

Kekuatan bumi menarik kakiku dalam-dalam, menyeret dan membakarku dalam inti magma yang paling panas! Aku merungkuk, makin merungkuk, Rasa panas yang terkutuk membakar, memadat dalam dada. Menyiksaku tanpa ampun, hingga hari itu tiba, kau tahu seluruh tubuhku gemetar. Panas dan dingin menjadi satu seperti nerapa. Dan kau tahu, kau tahu, kekuatan aneh itu yang memaksaku untuk jadi babi gila. Menyeruduk ke mana saja nalurinya memerintahkan untuk meyeruduk. Aku menyeruduk. Apa saja yang kulihat, kulihat sebagai musuh. Harus dihancurkan dalam sekejab! Tapi yang kuseruduk rupanya tembok-tembok besi…..Lihat……. dua taringku patah, tak lagi bisa dijadikan senjata. Sebagai perhiasanpun cukup buruk kan? Kalau aku ini tentara, maka aku tentara yang tidak baik. Tidak punya disiplin, kurang taktis, tidak mampu mengontrol emosi serta tidak perduli pada batas-batas dan ukuran.

(KECEPATAN).

Su, perempuan biasa. Tidak cantik tetapi punya daya tarik yang luar biasa, kegairahan hidupnya seperti kuda tak terkendali! Salahku memang, mengawini perempuan bekas pelacur. Padahal tadinya sudah kurelakan, dia bekerja, aku juga bekerja. Tapi Su selalu bilang padaku : ah, kamu tidak pernah bisa memberiku apa-apa selain anak. Ya, itu kenyataan. Dan karena itu pula dia berhak menutup mataku, mulutku dan menahan gerak semua anggota tubuhku. Tapi memang semua itu termasuk dalam perjanjian. Dan kami sudah saling menjanjikannya, dulu waktu dia kukawini. Kenyataan ini mampu kutahan sampai beberapa lamanya, 3 anak. Cuma itu katanya yang bisa kuberikan padanya, ya! Tapi lihat muka anak-anak itu satu persatu kalau mereka masih hidup. Lihat dengan teliti. Seperti siapa mereka? Adakah persamaannya denganku? Sama sekali tidak. Yang sulung entah seperti siapa? Yang kedua entah seperti siapa dan yang ketiga kulitnya hitam pekat dengan mata yang bulat dan rambut keriting kecil-kecil. Anakkukah itu? Anak Su! Aku pernah punya pikiran mungkinkah ada dokter-dokter jahil yang senang menukar-nukar bayi di RS bersalin, atau perawat-perawatnya. Tapi hal itu tidak mungkinkan? Mereka pasti menghormati sekali sumpah jabatan. Tapi aku bisa memastikan anak yang ketiga bukan anakku!

LAKI-LAKI  (MERATAP LAKI_LAKI DI DEPANNYA DENGAN GELISAH)
Tahukah kamu mengapa aku masih tetap bisa menahan diri selama ini? Masih tetap mendampinginya meski jantung perih bukan main? Karena aku mencintai Su! Karena aku sudah bersumpah untuk tetap setia apapun yang sudah dia lakukan. (BERTERIAK) banci! Laki-laki lemah! Tidak punya tangan besi! Pendirian yang rapuh! Ya aku tahu matamu menuduhku begitu. Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak marah. Ini memang termasuk dalam perjanjian. Kataku selalu pada Su : lakukan tapi tanpa perasaan cinta. O, kelemahan. Apa yang kau ciptakan selama ini sebagai akibat? Mesiu apa yang kau padatkan dalam tabung bersumbu?ketidaktentraman? kekacau-balauan pikiran? Kecurigaan? Keganasan? Kegilaan? Pembalasan dendam tanpa ampun? Semua sudah kulakukan.

Jadilah laki-laki maka kau harus membunuh. Jadilah laki-laki maka kau berhak merusak apa saja. Jadilah laki-laki maka dirimu akan kau rubah menjadi empat dinding penjara setebal satu kaki tanpa jendela. Jadilah laki-laki maka sebetulnya kau meriam siap ditembakkan! Dan malam itu sudah kunobatkan diriku sendiri jadi laki-laki. Laki-laki dengan naluri hewani yang dibiarkan lepas ikatannya.

Dan kesetiaan, di mana dia harus ditempatkan? Adakah perkataan itu masih punya arti untuk semua orang? Su pernah menjanjikan padaku. Aku juga pernah sampai anakku yang ketiga dilahirkan. Anakku? Anak Su! Sekarang apa yang terjadi? Apa yang sudah dilakukan Su? Apa yang sudah dilakukan? Mana tuah dari keselarasan seperti yang selama ini selalu kau bicarakan? Miliki kesetiaan, lalu orang akan jadi seperti dikebiri, Cuma sanggup melihat hal-hal yang baik saja. Satu saat jika kebetulan terlihat keburukan-keburukan yang sebetulnya sudah menjadi mimpi buruknya selama berjam-jam dia tidur, maka dia akan bilang dengan mata merah : ah, itu Cuma baying-bayang bukan kekuatan, padahal terbalik!

Waktu kesabaranku habis, aku menyatakan pada Su supaya menghentikan segala kegiatannya. Maksudku baik, demi anak-anak dan masa depan keluarga. Nama baik, kataku padanya. Asuhlah anak-anakmu di rumah, kalau bosan sulamkan baju-baju hangat. Atau kalau mau bekerja juga. Bekerjalah, tapi yang pantas! Tapi kau tahu yang terjadi kemudian. Su lebih gila lagi, dia seperti kuda lepas kendali. Apa yang terjadi, kataku dalam hati. Kalau dulu aku masih tidak peduli, sekarang keadaannya berbeda. Umurku mulai menginjak masa tua. Aku butuh ketenangan. Aku butuh perempuan yang kucintai dan mencintaiku. Aku butuh perhatian dan diperhatikan. Dan semuanya sudah terjadi akibat dari kau, O, kelemahan, Besok aku akan dihukum mati. Pertama kali dalam penjara. Sudah kubunuh 6 orang dan melukai 3 orang. Betulkah itu? Sebegitu besarkah tenagaku waktu itu? O , aku tidak tahu.

(MENUTUP MATANYA DUDUK KECAPAIANNYA)

LAKI-LAKI :
Heeeeee…………… kau masih ada. Temanku syukurlah. Jangan pergi, tetaplah disini bersamaku, tapi tunggu aku sering melihat kamu tapi lupa di mana? Siapa namamu? Namamu? Ya, namamu? Betul, aku sering melihat kamu. Barangkali di pasar atau di bioskop, atau di sebuah toko kelontong. Entahlah, tapi aku yakin kita sering ketemu, siapa namamu Tuan? Jangan balik bertanya. Aku Tanya siapa namamu? Apa yang sedang engkau kerjakan? Menirukan apa saja yang aku lakukan? Untuk apa? Apa itu perlu? Ah aku ingat sesuatu. Suatu malam seseorang berjubah berkerudung abu-abu berdiri di depanku dan berkata : kamu jadi makhluk kamu sekarang hidup. Kamu kujadikan dari berbagai zat. Tubuhmu terdiri dari unsur-unsur air, udara, tanah, cahaya, dan api. Aku bertanggung jawab penuh pada pertumbuhanmu. Aku yang menciptakan kehidupan yang terlepas dari susunan kehidupan kami, para penguasa langit. Susunan kehidupan yang otonom. Itu terjadi berabad-abad yang lalu. Waktu itu aku sendirian juga berabad-abad lamanya. Sampai aku betul-betul tidak tahan. Siapa yang tahan dijerat sepi? Sendirian tanpa kawan yang biasa diajak berunding sesuatu? Lalu aku meminta pada penciptaku, tuan berkerudung abu-abu yang tidak bisa kulihat wajahnya itu : beri kiranya aku seorang kawan yang akan mendampingiku dalam susah dan senang. Syukur, permintaanku rupanya masuk akal. Aku diberinya satu orang makhluk yang keadaanya berbeda denganku, secara keseluruhan dia lembut. Tapi kami cocok, kalau kami saling peluk untuk mengusir kedinginan malam berbagai getaran aneh menjalar di seluruh tubuh. Dia juga begitu, katanya. Seribu tahun kemudian, baru aku tahu bahwa dia bernama perempuan dan sanggup mengeluarkan makhluk kecil yang serupa dengan kami berdua. Pembiakan, kata orang-orang, anak-anak yang kecil, mungil, lucu-lucu, siapa tidak tertarik pada anak-anak, maka dia itu kanibal. Mulutnya masih merah, lembut dan manis. Mulut mereka baunya wangi seperti kain sutra, aku suka, waktu ibunya masih terbaring istirahat diranjang kuangkat bayinya dan kutimang-timang dalam pelukan.
Buyung….buyung, bujukku. Karena dia menangis. Ibunya berteriak-teriak, aku tidak peduli, ah ibunya khawatir aku akan mematahkan tulang punggung bayinya yang masih lembek. Tidak peduli kataku.
Hendak kuhibur diriku dengan menyanyikan sebuah lagu. Dan berbaur dengan jeritan-jeritan ibunya aku bernyanyi.

(MENYANYI)
Kuharap angin gunung
Berhembus perlahan
Mengusap lembut kulitmu

Kudirikan benteng beton
Kalau bunyi bersiutan
Datang dari padang-padang

LAKI-LAKI :
Buyung……buyung……kenapa kamu begini lucu. Matamu besar bulat dan penuh harapan memandang padaku. Masa depanmu terang? Rambut jagung……halus. Nafasmu sejuk…….waaaaa……
Tidak apa-apa, jangan menangis dulu. Nanti kugantikan popokmu dengan yang bersih biar kau tetap merasa hangat dan tidak masuk angin. Seorang anak mengencingi bapaknya bukankah itu hal yang biasa? Hupa……kalau kau tidak kencing nanti orang mengira kau Cuma boneka plastik. Sudah menghitung satu, orang biasanya hitung-menghitung dua juga, lalu tiga. Istriku membiakkan tiga anak!

(PADA LAKI-LAKI DI DEPANNYA)

Kamu lihat, semuanya sebetulnya bisa menjadi cerita yang manis, dan selamanya akan manis, bermula manis dan berakhir manis kalau saja tidak ada paksaan-paksaan, penyudutan-penyudutan, keinginan-keinginan mustahil, keserakahan-keserakahan, semua hal-hal buruk. Kalau aku ini seorang penari, aku suka menari, sebutkan macam-macam tarian yang mampu kutarikan, akan kutarikan dengan mulut tersenyum tanda suka hati. Mula-mula memang terjadinya seperti itu. Musik, lalu anggota tubuh kugerakkan menurut irama musik yang sudah ditentukan. Gerakan-gerakannya aku yakin pasti indah. Tapi celaka musik bagus berangsur lenyap berganti dengan bunyi-bunyian aneh nadanya tanpa aturan. Aku berhenti tapi tidak bisa. Aku berusaha menghentikan gerakan-gerakan tariku, tapi tidak bisa. Ada kekuatan aneh yang memaksaku untuk terus menari meski tidak kusukai. Dorongan aneh itu bikin aku terus mengerakkan tubuhku mengikuti musik kacau yang bunyinya makin bising. Aku berteriak, suara tidak keluar, aku berteriak dalam hati, tolong aku mau berhenti – stopkan ! Stopkan! Tolong !!!!!! aku harus terus dan terus hingga hal itu membuatku gila. Sudah pasti gerakan-gerakan tariku tanpa isi karena sama sekali tidak kugerakkan berdasarkan keinginan hati dan jiwa. Aku teriak-teriak, dalam hati. Berhenti, aku belummau mampus. Aku kepayahan! Tolong! Tolong! Tolong Stopkan! Tapi siapa yang sanggup menolong? Kulihat orang-orang sekelilingku juga melakukan hal yang sama. Menarikan tarian-tarian yang belum tentu ingin mereka lakukan. Dunia penuh dengan manusia yang menarikan gerakan-gerakan yang aneh. Dan wajah mereka kelihatan menderita. Barangkali wajahku juga kelihatan seperti wajah orang-orang yang kulihat. Aku menari, menari seperti begini. Begini. Begini terus begini lalu begini kemudian begini dilanjutkan dengan begini. Dan itu kuulangi lagi, kuulangi lagi dengan variasi yang terlalu miskin. Kalau ada kehendak untuk berhenti makin cepat gerakan-gerakan terjadi, akibatnya tulang-tulangku berbunyi menderak-derak, seperti mau patah. Keringat mengucur seras. Dan itulah hidup, kata orang-orang.

LAKI-LAKI :

Oh, aku betul-betul kurang begitu paham.

(MEMANDANG TAJAM PADA PENONTON LALU KALIMATNYA JADI TEGAS)
Siapa diantara Tuan-tuan yang pernah menduga bahwa tuan akan dilahirkan pada suatu saat lalu tuan-tuan bersedia dalam keadaan seperti sekarang ini sedang tuan-tuan jalani?
Siapa diantara tuan-tuan yang pernah tahu apa tuan-tuan akan dilahirkan sebagai bayi laki-laki atau bayi perempuan? Tidak satu orang pun dan kalau ada yang menyatakan bahwa hal itu sudah pernah diduganya jauh sebelumnya itu artinya dia menduga pada waktu dia masih TIDAK TAHU dimana dan entah jadi TIDAK TAHU maka dia itu dukun palsu. Tinggalkan saja atau kalau perlu rajam dia dengan batu-batu panas. PAUSE
Baiklah, tapi hidup sudah berjalan. Hidup. Benar yang barusan kuucapkan? H-i-d-u-p. kita hidup, kamu hidup. Kamu, kamu, aku itu artinya aku bukan batu, bukan patung, bukan kayu, bukan lukisan. Ada darah yang mengalir disela-sela tubuhku disalurkan oleh otot-otot. Ada debaran jantung, ada gerak. Ada pertumbuhan! Kalau aku disakiti, aku akan merasa sakit. Kalau perutku tidak diisi makanan, aku akan lapar. Beberapa hari tidak tidur aku akan jadi mengantuk. Lihat, aku normal. Sama seperti makhluk-makhluk lain sejenisku. Makhluk yang diciptakan oleh tuan berkerudung abu-abu yang tidak pernah bisa kulihat wajahnya itu. Tusukkan sebilah pisau dilenganku, aku akan kesakitan lalu cabut kembali, darah akan mengalir dan warnanya tidak hijau atau ungu tapi merah. Sama seperti warna darah kebanyakan orang.
Lalu mengapa aku harus dipaksa untuk tidak melakukan apa-apa? Karena aku harus berputar dengan wajar, mengikuti keselarasan alam karena hal itu sudah ditentukan sejak berabad-abad yang lain.
(MARAH PADA LAKI-LAKI DIDEPANNYA)
Jangan coba-coba masa bodoh. Kamu berusaha mencegahku. Kamu yang menyuruhku untuk tenteram ditempatku dan jangan kena pancingan setan-setan. Kamu ya, kamu! Tapi, aku tidak peduli. Nyatanya sudah kujalankan apa yang kupikirkan harus kujalankan dan aku puas. Aku puas. Kau dengar? Aku puas. (MENANGIS)
Tak kuduga akibatnya begini. Semuanya meninggalkan aku satu-satu.
Teman-temanku, lingkunganku mengucilkanku. Anak-anak kecil lari kalau kedekati. Jangan dekat-dekat dengan pembunuh nanti kau dibunuhnya pula, kata ibu-ibu mereka. Binatang-binatangku juga tidak mau kalau kujamah. Mereka menghindar kalau kudekati.

LAKI-LAKI (TERTAWA LEMAH)
yang tinggal Cuma kamu. Kamu sendiri. Heeeo…….dengar aku kan? Aku senang kau masih mengikutiku. Sungguh betul-betul aku hargai. Sekarang ceritakan kesulitan-kesulitan, ceritakan tentang negerimu misalnya. Tentang anjing. Suka anjing? Kau punya anjing? Atau ikan-ikan dalam akuarium? Atau ceritakan tentang kutu-kutu bervitamin. Burung-burung.

(KESAL)

atau tentang peternakan ayam? Atau buaya?

(LAKI-LAKI DIDEPANNYA DIAM. MEREKA SALING MENATAP)

dari sebelah mana harus kupaksa supaya kau membuka mulut? Naaaaaaaaaahhh…….tapi kenapa tanpa suara? Bisu? He……..berapa umurmu? 35? 35? Ya, kukira sekitar itu, 35 ya?

LAKI-LAKI :
Aku ingat sekarang siapa kamu. Sehari sebelum kejadian itu, sesudah pertengkaran dengan Su. Kubujuk Su, tinggalkan Su, hentikan semuanya. Su malah marah. Kita mesti hidup katanya. Apa tidak bisa hidup yang wajar, sederhana? kataku padanya.
Su lebih marah lagi, matanya membelalak, kamu Cuma bisa melarang jangan begini jangan begitu tapi apa kamu pernah berpikir bagaimana caranya mengatasi kesulitan-kesulitan? Kujelaskan lagi! Aku ingin janji kita dulu, kalau kau melakukan dengan orang-orang yang berbeda tanpa rasa apa-apa masih bisa kupikir-pikir. Tapi Su demi Tuhan jangan biasakan Cuma dengan satu orang. Su makin marah. Dia membayar dengan baik, katanya lalu pergi dengan membanting pintu. Tidak, kataku dalam hati. Mulutnya memang mengatakan itu, tapi kilatan matanya menceritakan pernyataan lain. Rasa panas dan dingin tiba-tiba menyatu dalam tubuhku. Aku juga berdiri seperti sekarang ini, menghadap ke satu arah dan melihat ….. kamu. Lalu pada malam harinya, malam kejadian yang luar biasa sepanjang sejarah hidupku……. Aku juga diam-diam seperti begini, memandang ke satu arah ke satu titik. Dibatasi oleh garis samar kita saling tatap. Niat yang sudah lama terpendam berkobar lagi tanpa mau mencegah. Lagi-lagi mencegah. Kau beritahu lagi tentang keselarasan susunan alam kita yang sudah diatur oleh Tuan berkerudung abu-abu yang tidak pernah bisa kulihat wajahnya itu. Tapi kamu tidak pernah mempelajari aliran air. Makin dibendung makin berusaha untuk menjebol.
Aku menolak! Menentangmu! Melakukan terbalik dengan apa kau ingin kulakukan! Kucari sebilah pisau, dengan gampang kudapat. Ada di peti terselip antara barang-barang antik dari kuningan dan perunggu serta benda-benda tajam lainnya. Kupilih pisau pendek bikinan arab yang bengkok, kuasah hingga tajam. Lalu melangkah menuju gelap tanpa menghiraukan cegahanmu. Langkahmu yang berat terseok mengikuti langkahku, memegangi kakiku. Tapi aku tidak peduli. Jauh dibelakang sana kudengar juga teriakan seseorang mencegah, entah siapa, kutulikan telingaku, kubutakan mata. Aku tidak menengok, kedepan! Ke depan saja melangkahkan kaki. Hancurkan siapa saja.

LAKI-LAKI :
Yang berusaha menghalangi. Niatku sudah Kendal dan galaknya makin menderu-deru seperti mesin perahu tempel yang siap mendorong ke tujuan mana saja aku ingin. Rasa sakit akibat sayatan silet dikulit dari orang yang kita cintai, satu atau dua mampu kita tahankan. Tiga atau empat mungkin juga masih. Lima atau enam bisa dipikir-pikir untuk dilupa dan dimaafkan atau tidak.

Tapi kalau sudah terlampau banyak tidak lagi bisa dihitung? Apa aku bukan manusia biasa yang terdiri dari darah dan daging dan punya rasa sakit karena kekecewaan?
Kukutuk diriku sendiri. Kusebut nama Tuan berkerudung abu-abu yang tidak pernah bisa kulihat wajahnya maksudku mau minta tolong. Cegah keinginan edan yang sudah menggalak siap kumuntahkan. Tidak ada jawaban Tuan itu, muncul juga tidak. Dan itu malah mengacaukan, tidak membantu menyelesaikan soal!
Dalam gelap aku diam. Diamku tak ubahnya seperti diamnya permukaan air dengan arus keras di bawahnya siap menenggelamkan siapa saja. Aku menunggu. Dalam gelap ras-rasanya aku jadi mampu meneliti dengan lebih jelas. Dan dua makhluk lain jenis itu….iblis mereka.

Apa yang telah mereka lakukan lakukan di depan mataku? Tidak tanggung-tanggung mereka lakukan untuk bisa saling memuaskan. (RUSUH) kukawini seorang pelacur. Kutunggui waktu dia melacurkan diri. Selalu kutentramkan hatiku karena yakin, yang dia jual Cuma tubuhnya tapi cintanya tetap untukku. Cuma untukku. Tapi yang sekarang terjadi lain. Selama bertahun-tahun aku mampu menelan kejadian-kejadian dengan sabar seperti kesabaran seorang martir. Tapi yang sekarang terjadi lain, apa aku mungkin terus diam. Lalu kau tahu apa yang terjadi kemudian . aku ingat kau ada di dekatku waktu itu. Tubuh enteng terasa melayang. Dua orang di depanku jadi sekecil semut. Tak lagi aku takut pada siapa pun. Su dan laki-laki itu! Berapa orang malam itu jadi korban robekan belatiku di perut mereka? 4? 5? 6? 20? 23? Ketika tugas kuselesaikan tanpa menyesal aku menuju rumah, menemui ketiga anak-anakku. Anak-anak Su. Padahal mereka tidak punya doa apa-apa. Tapi bisakah pikiran yang gelap mempertimbangkan hal itu? Dengan bedil dua loop yang pelurunya mampu menghancurkan kepala seekor badak aku menghabisi semuanya. Entah berapa banyak yang sudah menanam benih di tanah subur milik Su. Benih itu jadi tiga bakal pohon. Malam itu kubongkar semuanya hingga akar-akarnya. Musnah Cuma dalam tiga kali semburan api. Siperusak yang datang tiba-tiba dan menghilang secepatnya! Aku benci Su! Aku benci laki-laki itu. Aku benci anak-anak Su. Aku benci semnuanya. Aku benci diriku sendiri. Rupaku pasti buruk sekali di cermin. Dari kejauhan dengan puas kupandangi rumahku yang mulai runtuh dijilat-jilat lidah api.
(DUDUK KECAPAIAN)

LAKI-LAKI :
Besak aku akan mati. Jangan runtuh pahlawan. Ya, besok aku akan berjalan dengan tegak dan menolak untuk ditutup dengan kain hitam. Akan kutentang mata para penembak itu satu-satu dan sekali lagi menikmati sengatan cahaya matahari sebelum aku mati.
Aku akan teriak pada para penembak itu, menganjurkan supaya mereka jangan gentar. Ayo bung cepat lakukan tugasmu. Yang akan kalian tembak adalah seorang pemberani, seorang laki-laki dan pahlawan bagi dirinya sendiri. Dan tembakan berbunyi serentak, sepuluh timah menyengat tubuhku aku akan rubuh sambil tersenyum, ah akhirnya ku masuki juga ruangan besar dengan pintu terbuka lebar-lebar. Aku akan segera tahu apa saja isinya.


(PAUSE..BICARA PADA LAKI-LAKI DI DEPANNYA)

aku lelah sekarang giliranmu bercerita. (MENUNGGU) kenapa diam saja? Kenapa curang? Tidak menepati janji? Sudah kubukakan semua, kau harus ganti membukakan rahasia-rahasia kita, Cuma kita berdua yang tahu. Rahasia-rahasiamu kubawa mati dan rahasia-rahasiaku tentunya juga kau bawa mati. Kenapa tetap diam? Kenapa tidak mau bicara? Kenapa menatapku seperti itu? (MARAH) kenapa?
Kamu curang! Sama seperti Su. Kamu jahanam, sama seperti Su, yang tidak pernah mau melihat orang dan Cuma mau melihat dirinya sendiri saja. Kamu serakah, sama seperti Su, yang ingin tahu isi perut orang lain tapi tidak mau memperlihatkan perut sendiri. Aku tidak butuh kawan seperti itu. Biar kamu pergi meninggalkan aku seperti yang lain-lain. Kamu bangsat, sama seperti Su yang tidak pernah mau memikirkan perasaan orang lain, tidak mau bermanis-manis baik di muka maupun di belakangku. Tatapan menghina. Kamu anjing seperti Su yang makan makanan apa saja yang dijumpainya di jalan-jalan atau di tong-tong sampah. Kamu binatang, sama seperti Su yang mengumbar keinginan apapun tanpa peduli batas-batas. Kamu pelacur, sama seperti Su yang selalu menerima tapi tidak mau memberi.
Kamu……kamu….. aku benci kamu. Benci dari ujung rambut sampai ujung kaki.

(BERTERIAK DAN HISTERIS)
pisauku…….pisauku………mana belati itu. Ini? Belati akan mengakhiri perasaanmu juga
(MENGGERAM)
belati…….belati……..belati……belati……..belati….
(MENUSUK MEMBABI BUTA. KEDENGARAN SUARA KACA PECAH BERKALI-KALI. LAKI-LAKI MAKIN HISTERIS)
jangan coba halangi aku Tuan berkerudung abu-abu yang tidak pernah bisa kulihat wajahnya………….jangan coba halang-halangi aku! Belati………belati………belati……

(MULA-MULA LAMPU DI AREA LAKI-LAKI DI DEPAN LAKI-LAKI ITU MATI SEKETIKA. LALU SEMUA LAMPU MATI DAN PANGGUNG JADI GELAP KEMBALI SEPERTI SEMULA. LAKI-LAKI MASIH HISTERIS. LALU DIAM. SADAR BAHWA SEKELILING SUDAH GELAP. DAN IA BERTERIAK BUKAN LANTARAN KEJARAN TAPI LANTARAN KETAKUTAN BERADA DALAM GELAP SENDIRIAN)

Jangan pergi……..jangan! jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendirian! Jangan! Jangan aku masih butuh…….masih butuh seseorang disekitarku. Aku butuh….jangan! cahaya! Cahaya! Cahaya! Lampu…cahaya…….aku butuh cahaya…….aku butuh cahaya. Cuma cahaya yang kubutuhkan satu-satunya sekarang. Aku butuh cahaya! Cahaya! Cahaya……cahaya…cahaya……..cahaya.

SUARANYA MAKIN LEMAH DAN MAKIN LEMAH HINGGA HILANG. TAPI PANGGUNG TETAP GELAP. TAK SEBERKAS CAHAYAPUN YANG MAMPIR.

S E L E S A I
JAKARTA, 8 MEI 1977
N RIANTIARNO
diketik ulang yudi dodok